Skip to content
Apa Yang Kamu Cari?
Satu blok mentega dikelilingi perkakas baking dan telur serta terigu

Inilah Perbedaan Margarin dan Mentega yang Harus Kamu Ketahui

Pakai mentega atau margarin, ya?”, sebuah contoh pertanyaan klasik dalam urusan memasak. Bentuknya mirip, fungsinya sama, namun apa yang membedakan, ya? Nah, untuk kamu yang sering menghabiskan waktu di dapur, tentunya wajib untuk paham soal yang satu ini.

Selain mengulik perbedaan margarin dan mentega, yuk, bahas juga soal peruntukannya. Mari simak ulasannya berikut ini!

Perbedaan Margarin dan Mentega

1. Mentega berasal dari olahan susu

Satu blok mentega dipotong-potong dan diletakkan di atas talenan
Mentega adalah produk yang telah ada selama ribuan tahun. (Foto: Shutterstock)

Mentega adalah produk olahan yang kebanyakan berasal dari susu sapi. Di berbagai belahan dunia lainnya, kamu juga bisa menemukan mentega yang dibuat dari susu kambing hingga yak. Awalnya susu dipisahkan dengan krim dan umumnya melewati proses pasteurisasi. Krim tersebut kemudian dikocok hingga bagian padat dan cairnya terpisah. Bagian cair inilah yang lalu diambil untuk diolah menjadi mentega yang kita kenal.

2. Margarin umumnya tidak mengandung susu

Margarin biasa disajikan dalam kotak kemasan sehingga terlihat beda mentega dan margarin.
Margarin populer digunakan sebagai olesan untuk roti. (Foto: Shutterstock)

Sementara itu margarin pada awalnya dirancang sebagai produk substitusi yang mirip dengan mentega. Lebih murah, karena margarin terdiri dari minyak sayur, air, garam, dan pengemulsi.

3. Cita rasa dan peruntukan

Dari segi rasa, mentega punya karakter yang lebih halus namun kaya, creamy, dan elegan. Inilah mengapa mentega banyak dipakai tak hanya untuk menggoreng, namun juga sebagai olesan hingga untuk membuat kue dan pastry. Salah satu alasannya juga adalah karena harganya sendiri sudah lebih mahal daripada margarin.

Perbedaan paling utama di antara keduanya adalah kandungan lemaknya dan akan dijelaskan pada bagian berikutnya. Meskipun demikian, margarin juga tetap difavoritkan, terutama untuk memanggang. Karena adanya kandungan air, membuat hasil panggangan menjadi lebih lembut. Tak hanya untuk memanggang, margarin juga jadi favorit sebagai bahan untuk menumis, menggoreng, dan juga sebagai olesan. Fakta menarik, jenis margarin yang khusus dipakai untuk olesan ternyata punya kandungan lemak yang lebih rendah daripada mentega untuk kue, lho!

Jadi, Harus Pilih yang Mana?

Meskipun lebih murah, margarin dikatakan memiliki nilai plus untuk kesehatan karena mengandung lemak tak jenuh yang lebih tinggi daripada mentega – yang ternyata terdiri atas 50% lemak jenuh. Beberapa studi menyimpulkan bahwa mengonsumsi lebih sedikit lemak jenuh akan mengurangi risiko serangan jantung sampai 17% bila digantikan dengan asupan lemak tak jenuh.

Sayangnya, margarin bisa mengandung lemak buatan yang dikenal dengan istilah lemak trans. Jika dikonsumsi berlebihan akan memiliki efek kurang baik untuk tubuh. Ini terjadi karena adanya proses menambahkan hidrogen pada kandungan minyak sayur dalam margarin saat diproduksi di pabrik. Tujuannya tiada lain adalah untuk menjadikan margarin lebih awet dan punya rasa lebih enak.

Setelah mengetahui beda mentega dan margarin, kini keputusan ada di tangan kamu untuk memilih di antara keduanya. Ini tentunya tergantung dari kebutuhan kita di dapur serta anggaran yang disiapkan. Sebuah restoran ternama mungkin akan lebih memilih mentega karena produknya yang ditujukan untuk segmentasi pasar yang khusus. Namun untuk kebutuhan sehari-hari di rumah, mungkin lebih ekonomis bila menggunakan margarin karena cita rasanya lebih bisa diterima bahkan disukai seluruh keluarga.

Untuk memasak akhir pekan ini, ada beberapa masakan rekomendasi yang bisa menggunakan mentega ataupun margarin yang patut dicoba. Dari churros hingga steak ayam, ataupun tumis sapi saus bawang serta tumis sapi jamur menanti untuk diintip resepnya!

Referensi:

[1] Lee Hooper , Nicole Martin, Asmaa Abdelhamid, George Davey Smith. Reduction in saturated fat intake for cardiovascular disease. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/26068959/ (diakses pada tanggal 1 Desember 2020)

Cari lebih banyak